A.
Latar Belakang
Jumlah penduduk
Indonesia tahun 2025 diperkirakan mencapai 273,7 juta jiwa atau mengalami
kenaikan 67,9 juta jiwa dari jumlah penduduk tahun 2000 sebanyak 205,8 juta
jiwa. Pada tahun 2025 angka harapan hidup penduduk Indonesia juga mengalami
peningkatan menjadi 73,7 tahun dari 69 tahun.(www.solusipeduli.com,2005).
Jumlah penduduk usia
produktif 15-64 tahun sebanyak 132,976 juta jiwa menjadi 187,998 juta jiwa pada
tahun 2025. Meningkatnya penduduk usia produktif ini berdampak pada penurunan
rasio ketergantungan. Saat ini 100 orang produktif menanggung 50 orang tidak
produktif. Jumlah penduduk usia 65 tahun keatas pada tahun 2000 hanya 9,674
juta jiwa atau 4,7 persen menjadi 23,260 juta jiwa, itu berarti jumlah penduduk
yang ditanggung oleh usia produktif menjadi lebih besar. Belum lagi ditambah
dengan jumlah penduduk miskin yang saat ini 36 juta jiwa akan memperumit
permasalahan.
Pemerintah mengeluarkan biaya untuk sektor kesehatan yang tercermin dalam
APBN 2005 hanya berkisar 2,6% dari seluruh anggaran pertahun dalam dasawarsa
terakhir ini. Sendangkan pengeluaran dari masyarakat untuk kesehatan masih
berkisar 2,3%. Dengan demikian bahwa dana kesehatan masih jauh dari memadai. Dalam
kurun waktu terakhir ini banyak gagasan yang diperlukan tentang perlunya
pemerintah memberikan alokasi dana lebih besar untuk sektor kesehatan dengan
alasan selain kesehatan penting untuk pembangunan sumber daya manusia yang
bermutu, yang sangat diperlukan untuk melaksanakan berbagai kegiatan
pembangunan masa kini dan masa datang, juga karena kesehatan adalah hak asasi
manusia yang perlu mewujudkan kerjasama. selain kebijaksanaan pemerintah yang
mengarah ke desentralisasi sehubungan dengan otonomi daerah, demikian pula
sektor kesehatan utamanya mengenai masalah pembiayaan yang tidak lagi bertumpu
kepada pemerintah pusat. Oleh karena kebijaksanaan kesehatan terletak pada
pemerintah daerah yaitu propinsi dan kabupaten/kota. Untuk itu diperlukan suatu
kemampuan untuk melakukan advokasi dimana
alokasi untuk sektor kesehatan adalah sangat esensial bagi peningkatan mutu dan
produktifitas sumber daya manusia dan penyusunan anggaran kesehatan yang
realitis yang didasarkan pada perhitungan biaya secara rinci.
Kepala pusat kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan FKM UI Ascobat Gani,
dalam makalahnya menuturkan, Stroke merupakan penyakit yang menimbulkan dampak
sosial ekonomi sangat besar dan luas. Selain memerlukan biaya tinggi untuk
pengobatan dan rehabilitasi,penyakit itu juga menimbulkan kerugian berupa
hilangnya waktu produktif (www.kompas.com
2005).
Setiap tahunnya Indonesia bertambah dengan seperempat juta kasus baru TBC
dan sekitar 140 ribu kematian terjadi setiap tahunnya disebabkan oleh TBC,dan
merupakan negara ketiga terbesar didunia dan pembunuh nomor satu di antara
penyakit menular. Sebagian besar penderita TBC adalah mereka dengan usia
produktif (warta gardunas TBC 2005).
Jumlah lansia secara nasional ada 7,6 persen dari total jumlah penduduk.DIY
paling tinggi (13,7 persen) dan Sulawesi selatan (7,63 persen) urutan ke enam
dari seluruh provinsi di Indonesia. Usia
harapan hidup makin tinggi,hal ini membawa beban tersendiri bagi kelompok usia
produktif(www.indomedia.com 2005).
Hasil penelitian yang dilakukan Mansur tahun 2001 bahwa total kerugian ekonomi
(economic lost) pasien rawat inap
usia produktif pada lima penyakit utama di RSU Labuang Baji Kota Makassar Rp.
289.560.000,-
Hasil penelitian yang dilakukan Aswad tahun 2004 bahwa total kerugian
ekonomi (economic lost) pasien rawat
inap usia produktif pada lima penyakit utama di RSUD Aloei Saboe Kota Gorontalo
Rp. 553.159.315,-
Menurut data dari Medical Record RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo
tahun 2005 dari lima penyakit utama penderita rawat inap di rumah sakit dimana
Diare (GEA) masih mempunyai jumlah kasus terbanyak yaitu 1.364 kasus, APP 395
kasus,Thypoid 316 kasus, TBC 281 kasus dan Stroke 241 kasus. Hal ini berkaitan
dengan masalah kesehatan seperti kondisi rumah yang tidak sehat, tidak
tersedianya air bersih yang cukup, makanan dan minuman yang kurang hygienis
juga berhubungan dengan perilaku hidup. Dengan meningkatnya jumlah kasus
penyakit, maka akan terjadi peningkatan biaya untuk menanggulanginya baik dari
masyarakat maupun dari pemerintah.
Berdasarkan masalah-masalah tersebut diatas, maka penulis berkeinginan
mengadakan penelitian terhadap lima penyakit utama yang berkaitan kehilangan
hari produktif karena sakit dan kerugian ekonomi pada saat sakit di
Kota Gorontalo.
B.
Rumusan Masalah
Penelitian ini
dimaksudkan untuk mengetahui tentang beberapa hal, yaitu :
1. Berapa lama waktu produktif
yang hilang (rata-rata hari rawat inap) jika seseorang menderita salah satu
penyakit dari lima penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
2. Berapa besar biaya langsung
yaitu biaya yang dikeluarkan berhubungan dengan proses pengobatan dan perawatan
jika seorang menderita salah satu dari lima penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei
Saboe Kota Gorontalo.
3. Berapa besar biaya tak
langsung yaitu biaya yang tidak berhubungan dengan proses pengobatan dan
perawatan jika seseorang menderita salah satu dari lima penyakit utama di RSUD
Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
4. Berapa besar total biaya
langsung dan biaya tak langsung yang dikeluarkan jika seseorang menderita salah
satu dari lima penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
5. Berapa besar pendapatan yang
hilang akibat waktu produktif yang hilang (hari rawat inap) jika seseorang
menderita salah satu dari lima penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe
Kota Gorontalo.
6. Berapa total kerugian ekonomi
jika sesorang menderita salah satu dari lima penyakit utama di RSUD
Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
C.
Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui total kerugian ekonomi pasien rawat inap usia produktif
pada lima penyakit utama (GEA,APP, TBC,Thypoid dan Stroke,) di Gorontalo
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui lama waktu
hari produktif yang hilang (rata-rata lama hari rawat inap) jika seseorang
menderita salah satu penyakit dari lima penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei
Saboe Kota Gorontalo.
b. Untuk megetahui besar biaya
tak langsung, yaitu biaya dikeluarkan yang berhubungan dengan proses pengobatan
dan perawatan jika seseorang menderita salah satu penyakit dari lima penyakit
utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
c. Untuk mengetahui besar biaya
tak langsung, yaitu biaya yang dikeluarkan yang tidak berhubungan dengan proses
pengobatan dan perawatan jika seseorang menderita salah satu penyakit dari lima
penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
d. Untuk mengetahui total biaya
langsung dan biaya tak langsung yang dikeluarkan jika seseorang menderita salah
satu penyakit dari lima penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota
Gorontalo.
e. Untuk mengetahui besar
pendapatan yang hilang akibat waktu produktif yang hilang (hari rawat inap)
jika seseorang menderita salah satu penyakit dari lima penyakit utama di RSUD
Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
f. Untuk mengetahui total
kerugian ekonomi jika seseorang menderita salah satu penyakit dari lima
penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
D.
Manfaat Penelitian
1.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi
dan bahan acuan bagi sektor-sektor terkait dengan kebijaksanaan pembiayaan
kesehatan terutama Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Dinas Kesehatan Kota
Gorontalo dan RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo dalam mengambil
kebijakan dalam hal pembiayaan kesehatan.
2.
Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi untuk melakukan advocacy dan untuk meyakinkan anggota
DPRD dan Walikota Gorontalo dalam hal ini mengambil kebijakan dalam hal
pembiayaan kesehatan.
3.
Hal penelitian ini dapat menjadi bahan bacaan dan bahan pembandingan untuk
penelitian serupa pada tempat dan penyakit yang berbeda bagi penelitian yang
lain.
4.
Bagi penelitian sendiri merupakan pengalaman berharga dalam memperluas
wawasan dan upaya menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama pendidikan.
untuk skripsi selengkapnya dapat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar