Senin, 23 Mei 2016

Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Perilaku Pola Makan Klien Diabetes Melitus


       
         Dalam program pengobatan sebagian besar penyakit mungkin tidak terlalu memerlukan pengetahuan yang mendalam mengenai penyakit tersebut, cukup instruksi yang diberikan memadai. Tetapi pada Diabetes  hal ini berbeda, sebab disini diperlukan keseimbangan antara pengobatan dan kegiatan-kegiatan sehari-hari yang merupakan bagian dari kegiatan rutin seperti : pola makan, olahraga, bekerja, dan lain-lain. Jadi proses pengobatan sebetulnya merupakan proses yang berlangsung 24 jam dan seringkali berhubungan dengan perubahan perilaku dan gaya hidup klien. sehingga makin tinggi pengetahuan klien semakin besar upaya klien untuk mengubah perilakunya dalam mencapai keberhasilan menghadapi penyakitnya. Pengetahuan Diabetes dalam hal ini mempunyai peranan penting dalam penanganan penyakitnya sehari-hari.4
        Pengetahuan klien  mengenai berbagai penyakitnya sangat bervariasi, terutama penyakit yang mereka derita. Menurut beberapa penelitian tentang peran serta klien (Patient Participation Review ) dan pemanfaatan sarana ( Unication Review ) terbukti bahwa pengetahuan klien mengenai penyakitnya mempunyai korelasi positif dengan upayanya untuk mencari penanganan terhadap penyakit yang dihadapi, hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan klien mengenai penyakitnya dapat diikut sertakan dalam program pendidikan perilaku yang meliputi pola makan, istirahat, olahraga dan eliminasi.4
        Menurut penelitian Rogers (1974) bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dan bermakna daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.5
        Selama klien dirawat di rumah sakit aktifitas dan perilaku klien yang meliputi pola makan, istirahat pada umumnya melibatkan perawat, akan tetapi dapat didelegasikan tugasnya kepada keluarga maupun klien yang bersangkutan dengan terlebih dahulu memberikan penyuluhan tekhnik pola makan, karena klien ikut pula menentukan agar proses  asuhan keperawatan tercapai secara optimal tapi pemenuhan kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh pengetahuan klien yang menuntut sikap tertentu.

DOWNLOAD SKRIPSI LENGKAPNYA DI SINI

Sabtu, 21 Mei 2016

kerugian ekonomi pasien rawat inap usia produktif pada lima penyakit utama (GEA,APP, TBC,Thypoid dan Stroke,)




A.         Latar Belakang
Jumlah penduduk Indonesia tahun 2025 diperkirakan mencapai 273,7 juta jiwa atau mengalami kenaikan 67,9 juta jiwa dari jumlah penduduk tahun 2000 sebanyak 205,8 juta jiwa. Pada tahun 2025 angka harapan hidup penduduk Indonesia juga mengalami peningkatan menjadi 73,7 tahun dari 69 tahun.(www.solusipeduli.com,2005).
Jumlah penduduk usia produktif 15-64 tahun sebanyak 132,976 juta jiwa menjadi 187,998 juta jiwa pada tahun 2025. Meningkatnya penduduk usia produktif ini berdampak pada penurunan rasio ketergantungan. Saat ini 100 orang produktif menanggung 50 orang tidak produktif. Jumlah penduduk usia 65 tahun keatas pada tahun 2000 hanya 9,674 juta jiwa atau 4,7 persen menjadi 23,260 juta jiwa, itu berarti jumlah penduduk yang ditanggung oleh usia produktif menjadi lebih besar. Belum lagi ditambah dengan jumlah penduduk miskin yang saat ini 36 juta jiwa akan memperumit permasalahan.
Pemerintah mengeluarkan biaya untuk sektor kesehatan yang tercermin dalam APBN 2005 hanya berkisar 2,6% dari seluruh anggaran pertahun dalam dasawarsa terakhir ini. Sendangkan pengeluaran dari masyarakat untuk kesehatan masih berkisar 2,3%. Dengan demikian bahwa dana kesehatan masih jauh dari memadai. Dalam kurun waktu terakhir ini banyak gagasan yang diperlukan tentang perlunya pemerintah memberikan alokasi dana lebih besar untuk sektor kesehatan dengan alasan selain kesehatan penting untuk pembangunan sumber daya manusia yang bermutu, yang sangat diperlukan untuk melaksanakan berbagai kegiatan pembangunan masa kini dan masa datang, juga karena kesehatan adalah hak asasi manusia yang perlu mewujudkan kerjasama. selain kebijaksanaan pemerintah yang mengarah ke desentralisasi sehubungan dengan otonomi daerah, demikian pula sektor kesehatan utamanya mengenai masalah pembiayaan yang tidak lagi bertumpu kepada pemerintah pusat. Oleh karena kebijaksanaan kesehatan terletak pada pemerintah daerah yaitu propinsi dan kabupaten/kota. Untuk itu diperlukan suatu kemampuan untuk melakukan advokasi dimana alokasi untuk sektor kesehatan adalah sangat esensial bagi peningkatan mutu dan produktifitas sumber daya manusia dan penyusunan anggaran kesehatan yang realitis yang didasarkan pada perhitungan biaya secara rinci.
Kepala pusat kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan FKM UI Ascobat Gani, dalam makalahnya menuturkan, Stroke merupakan penyakit yang menimbulkan dampak sosial ekonomi sangat besar dan luas. Selain memerlukan biaya tinggi untuk pengobatan dan rehabilitasi,penyakit itu juga menimbulkan kerugian berupa hilangnya waktu produktif (www.kompas.com 2005).
Setiap tahunnya Indonesia bertambah dengan seperempat juta kasus baru TBC dan sekitar 140 ribu kematian terjadi setiap tahunnya disebabkan oleh TBC,dan merupakan negara ketiga terbesar didunia dan pembunuh nomor satu di antara penyakit menular. Sebagian besar penderita TBC adalah mereka dengan usia produktif (warta gardunas TBC 2005).
Jumlah lansia secara nasional ada 7,6 persen dari total jumlah penduduk.DIY paling tinggi (13,7 persen) dan Sulawesi selatan (7,63 persen) urutan ke enam dari seluruh provinsi di Indonesia.  Usia harapan hidup makin tinggi,hal ini membawa beban tersendiri bagi kelompok usia produktif(www.indomedia.com 2005).
Hasil penelitian yang dilakukan Mansur tahun 2001 bahwa total kerugian ekonomi (economic lost) pasien rawat inap usia produktif pada lima penyakit utama di RSU Labuang Baji Kota Makassar Rp. 289.560.000,-
Hasil penelitian yang dilakukan Aswad tahun 2004 bahwa total kerugian ekonomi (economic lost) pasien rawat inap usia produktif pada lima penyakit utama di RSUD Aloei Saboe Kota Gorontalo Rp. 553.159.315,-
Menurut data dari Medical Record RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo tahun 2005 dari lima penyakit utama penderita rawat inap di rumah sakit dimana Diare (GEA) masih mempunyai jumlah kasus terbanyak yaitu 1.364 kasus, APP 395 kasus,Thypoid 316 kasus, TBC 281 kasus dan Stroke 241 kasus. Hal ini berkaitan dengan masalah kesehatan seperti kondisi rumah yang tidak sehat, tidak tersedianya air bersih yang cukup, makanan dan minuman yang kurang hygienis juga berhubungan dengan perilaku hidup. Dengan meningkatnya jumlah kasus penyakit, maka akan terjadi peningkatan biaya untuk menanggulanginya baik dari masyarakat maupun dari pemerintah.
Berdasarkan masalah-masalah tersebut diatas, maka penulis berkeinginan mengadakan penelitian terhadap lima penyakit utama yang berkaitan kehilangan hari produktif karena sakit dan kerugian ekonomi pada saat sakit   di Kota Gorontalo.

B.          Rumusan Masalah
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui tentang beberapa hal, yaitu :
1.      Berapa lama waktu produktif yang hilang (rata-rata hari rawat inap) jika seseorang menderita salah satu penyakit dari lima penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
2.      Berapa besar biaya langsung yaitu biaya yang dikeluarkan berhubungan dengan proses pengobatan dan perawatan jika seorang menderita salah satu dari lima penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
3.      Berapa besar biaya tak langsung yaitu biaya yang tidak berhubungan dengan proses pengobatan dan perawatan jika seseorang menderita salah satu dari lima penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
4.      Berapa besar total biaya langsung dan biaya tak langsung yang dikeluarkan jika seseorang menderita salah satu dari lima penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
5.      Berapa besar pendapatan yang hilang akibat waktu produktif yang hilang (hari rawat inap) jika seseorang menderita salah satu dari lima penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
6.      Berapa total kerugian ekonomi jika sesorang menderita salah satu dari lima penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.

C.          Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui total kerugian ekonomi pasien rawat inap usia produktif pada lima penyakit utama (GEA,APP, TBC,Thypoid dan Stroke,) di Gorontalo
2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui lama waktu hari produktif yang hilang (rata-rata lama hari rawat inap) jika seseorang menderita salah satu penyakit dari lima penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
b.      Untuk megetahui besar biaya tak langsung, yaitu biaya dikeluarkan yang berhubungan dengan proses pengobatan dan perawatan jika seseorang menderita salah satu penyakit dari lima penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
c.       Untuk mengetahui besar biaya tak langsung, yaitu biaya yang dikeluarkan yang tidak berhubungan dengan proses pengobatan dan perawatan jika seseorang menderita salah satu penyakit dari lima penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
d.      Untuk mengetahui total biaya langsung dan biaya tak langsung yang dikeluarkan jika seseorang menderita salah satu penyakit dari lima penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
e.       Untuk mengetahui besar pendapatan yang hilang akibat waktu produktif yang hilang (hari rawat inap) jika seseorang menderita salah satu penyakit dari lima penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
f.       Untuk mengetahui total kerugian ekonomi jika seseorang menderita salah satu penyakit dari lima penyakit utama di RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
D.          Manfaat Penelitian
1.        Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi dan bahan acuan bagi sektor-sektor terkait dengan kebijaksanaan pembiayaan kesehatan terutama Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Dinas Kesehatan Kota Gorontalo dan RSUD Prof.Dr.H.Aloei Saboe Kota Gorontalo dalam mengambil kebijakan dalam hal pembiayaan kesehatan.
2.          Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi untuk melakukan advocacy dan untuk meyakinkan anggota DPRD dan Walikota Gorontalo dalam hal ini mengambil kebijakan dalam hal pembiayaan kesehatan.
3.          Hal penelitian ini dapat menjadi bahan bacaan dan bahan pembandingan untuk penelitian serupa pada tempat dan penyakit yang berbeda bagi penelitian yang lain.
4.          Bagi penelitian sendiri merupakan pengalaman berharga dalam memperluas wawasan dan upaya menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama pendidikan.

untuk skripsi selengkapnya dapat  
 

Minggu, 15 Mei 2016

Metode Bed side Teaching



Berdasarkan tujuan Sistem Pendidikan Nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Dirjendikti, 1999). Pendidikan program D-III  Keperawaratan adalah suatu pendidikan yang bertujuan menghasilkan  perawat praktisi  pemula (Ahli Madya Keperawatan) yang mana dikembangkan dengan landasan keilmuan  yang cukup dan landasan keprofesian yang kokoh (Ariani, 2001). Memiliki landasan profesi yang kokoh,bermakna menumbuhkan dan membina sikap, tingkah laku,dan kemampuan profesional keperawatan untuk melakukan praktik keperawatan ilmiah, tahap profesi atau pengalaman belajar klinik merupakan upaya untuk memberikan kesempatan pada peserta didik menerapkan ilmu yang di pelajari di kelas kekeadaan nyata guna mendapatkan pengalaman nyata untuk mencapai kemampuan profesional (Intelektual, Teknikal, dan Interpersonal) (Nursalam, 2002). Namun selama ini proses pembelajaran klinik di Poltekkes (Jurusan Keperawatan) Ternate masih kurang memuaskan. Hal ini diduga disebabkan kemampuan Clinikal instruktur (CI) yang masih rendah, lingkungan tempat praktek kurang memadai, dan metode bimbingan klinik yang diterapkan tidak jelas. Keadaan tersebut berpengaruh terhadap perilaku profesional mahasiswa baik kognitif, psikomotor, dan afektif masih rendah, terutama dalam tindakan keterampilan pemasangan infus secara prosedural. Namun pengaruh pembelajaran klinik dengan Bedside Teaching terhadap perubahan perilaku profesional pada Mahasiswa Jurursan Keperawatan Poltekkes Ternate masih belum jelas. 

Menurut Tutuko B (2004), bahwa kualitas lulusan pendidikan kesehatan (Akademi keperawatan) sekarang ini masih di pertanyakan. Di Poltekkes (Jurursan Keperawatan) Soetomo pada umumnya selama ini dalam proses pembelajaran klinik masih jauh dari harapan, sehingga perilaku profesional mahasiswa masih rendah dan dampak pada pelayanan yang diberikan kepada pasien masih kurang memuaskan. Keadaan tersebut mengakaibatkan kualitas pelayanan kesehatan juga kurang memuskan, karena pada prinsipnya dalam pembelajaran klinik dan lapangan diharapkan dapat terbentuk kemampuan akademik dan profesional serta mampu mengembangkan keterampilan dalam memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan profesional dan dapat bersosialisasi dengan peran profesionalnya (Nursalam, 2002).  
Terkait dengan hal tersebut dalam pembelajaran klinik dipengaruhi oleh banyak hal antara lain (1) penetapan Rumah Sakit atau Puskesmas profesional utama dan  Rumah Sakit lain sebagai jaringan praktek, (2) Adanya komunitas keperawatan yang mampu menciptakan iklim yang kondusif dan adanya model peran (3) Tujuan instruksional yang jelas dan menentukan kompetensi yang akan yang dicapai dan (4) Menetapkan sistem evaluasi (Nursalam, 2002). Oleh sebab itu diharapkan dalam kegiatan pengalaman belajar klinik keperawatan terencana sesuai dengan fungsi dan kompetensi yang ditetapkan oleh lembaga atau institusi pendidikan dapat dikuasai oleh peserta didik dengan optimal. ( Yusuf A , 2001). Metode pembelajaran merupakan salah satu metode mendidik peserta didik di klinik yang memungkinkan pendidik memilih dan menerapkan cara mendidik yang sesuai dengan objektif (tujuan), dan karakteristik individual peserta didik berdasarkan kerangka konsep pembelajaran (Nursalam, 2002). Maka pemilihan dan penerapan metode bimbingan klinik dalam kondisi tertentu dengan “Metode Bedside Teaching sangat dimungkinkan.
Bimbingan klinik merupakan bagian dari pendidikan tinggi keperawatan yang berupaya membantu peserta didik dalam meningkatkan kemampuan pengetahuan, sikap, dan keterampilan (Dalyono, 1997). Untuk membantu meningkatkan kemampuan/perilaku profesional tersebut pada mahasiswa, mempersiapkan/meminimalisir hal-hal yang menjadi pengaruh dalam pembelajaran klinik dan memilih atau menerapkan metode pembelajaran klink dengan Bedside Teaching penting untuk dilakukan dengan harapan peserta didik dapat manguasai keterampilan secara prosedural, tumbuh sikap profesional melalui pengamatan langsung
Keadaan permasalahan tersebut sehingga peneliti tertarik untuk meneliti dengan judul “Pengaruh Penerapan Bedside Teaching Terhadap Perubahan Perilaku Profesional dalam Pemasangan Infus Pada Mahasiswa Program Reguler Jurusan Keperawatan Poltekkes Ternate”.
selengkapnya tentang contoh skripsi ini bisa DI LIHAT DAN DI UNDUH DI BAWAH INI di klik langsung (klik skip kalau ada adfly yang muncul)